Pagi di Jakarta memang berbeda. Jalanan di kota ini menjadi super sibuk. Kendaraan bermotor saling lalu-lalang memadati jalanan kota. Pagi itu, saya bersama Mas Kris menyusuri jalanan Jakarta dari kawasan Cipete Raya menuju sebuah perkampungan yang dibelah oleh rel kereta. Pejompongan. Adalah nama kampung yang kami tuju.
Usai melewati padatnya jalanan Kota Jakarta, saya dan Mas Kris tiba di Pejompongan. Baru saja kami turun dari sepeda motor, kereta rel listrik (KRL) melintas di perkampungan ini. KRL yang melintas di jalur ini sangat intens. Hal ini sangat berbeda dengan KRL Solo-Yogya yang jeda waktunya cukup lama untuk sebuah kereta rel listrik.
Ketika kaki mulai melangkah menyusuri perkampungan ini, saya mendapati Jakarta yang begitu berbeda. Kehidupan sederhana dengan rumah-rumah yang saling berdempetan nan padat. Inilah potret kehidupan Jakarta yang ada di balik gedung-gedung tingginya. Kehidupan di Pejompongan.
Seorang wanita yang sudah lanjut usia tiba-tiba menyapa dan tersenyum kepada saya. Saya hanya membalas senyuman itu. Lalu, wanita itu menghampiri Mas Kris dan sedikit berbincang dengannya. Salah satu yang saya suka dari photowalking Street Photography yaitu interaksi dengan warga sekitar meskipun itu hanya melalui senyuman.
Bagi saya, Street Photography tidak hanya tentang mengambil foto di ruang publik atau jalanan semata. Ia adalah rekaman akan sebuah kota yang menarik untuk dilihat pada tahun-tahun yang akan datang bahkan puluhan tahun ke depan.
Pagi itu, Pejompongan tidak begitu ramai. Maklum, hari itu masih termasuk hari kerja dan pada waktu pagi. Hal ini juga ditegaskan oleh Mas Kris. Waktu paling menarik untuk merekam kampung ini ketika sore tiba. Kehidupan di kampung ini akan sangat berbeda ketimbang pagi hari.
Dalam hitungan saya, setidaknya setiap 10 menit sekali KRL melintas di sepanjang Pejompongan. Setiap kali KRL akan melintas, seorang pria dengan sigap menjaga perlintasan yang di sini. Warga yang hendak melintas pun menurutinya. Melakukan kegiatan photowalking di kawasan seperti Pejompongan ini harus ekstra hati-hati.
Deretan rumah dengan suasana khas pemukiman padat menjadi pemandangan yang lazim di sini. Pemandangan itu sangat memikat saya. Saya dan Mas Kris juga sempat berucap jika potret-potret kehidupan di Pejompongan sangat menarik diangkat dalam sebuah pameran foto. Tanpa kehadiran manusia dalam bingkai foto pun, sebuah foto tetap menarik. Dan Pejompongan memiliki nilai tersebut.
Matahari di Jakarta tengah terik-teriknya. Pagi itu, panas cukup menyengat kulit. Kondisi ini membuat cahaya dan bayangan menjadi begitu kontras. Kendati begitu, tidak ada alasan untuk tidak memotret. Bagi saya, kondisi suatu tempat merupakan tantangan yang harus dihadapi terlebih lagi jika berbicara tentang Street Photography.
Kemampuan olah gambar pada kamera ponsel pintar yang kian berkembang juga membawa perubahan dalam memandang gelap. Gelap pada sebuah foto sering kali harus dinaikkan untuk mendapatkan detail pada area tersebut. Gelap pada sebuah foto merupakan keniscayaan dan tidak apa-apa jika tidak menerangkan area gelap tersebut. Membiarkan gelap tetap gelap juga bukan hal yang tabu termasuk pada hasil foto kamera ponsel pintar.
Pagi menuju siang itu, Galaxy S22 Ultra menjadi teman yang dapat saya andalkan untuk merekam Pejompongan melalui mata lensa. Gawai yang sudah lebih dari dua tahun menemai saya ini mampu menjadi jembatan agar apa yang saya lihat terekam sempurna menjadi foto-foto. Selain KRL yang berlalu-lalang setiap 10 menit sekali, kehidupan pagi menuju siang di Pejompongan diisi dengan aktivitas manusia. Ada yang membereskan rumah, ada yang berangkat bekerja, ada yang tengah sarapan, pun dengan aktivitas sosial seperti pengecekan kesehatan untuk lansia.
Saat menyusuri Pejompongan, saya teringat dengan kalimat dari Mas Kris yang ia tuliskan pada Buletin Fotografi edisi November 2024 dan saya pun mengamini apa yang dikatakan oleh Mas Kris itu.
Memotret di kawasan pemukiman kumuh sepanjang rel Pejompongan mengajarkan saya bahwa fotografi tidak hanya tentang teknik atau komposisi, tetapi juga tentang bagaimana kita bisa menangkap esensi kemanusiaan.
Pagi menuju siang di Pejompongan itu memberikan saya pengalaman baru tentang Jakarta. Kota yang masih menjadi tempat meraih mimpi bagi kaum urban ini menyimpan kehidupan yang beragam. Pun, di balik gedung-gedung tinggi kota ini, ada kehidupan yang kerap luput dari mata lensa. Dan saya sepakat dengan apa yang Mas Kris katakan bahwa dalam setiap potret ada cerita, dalam setiap senyum ada harapan, dan dalam setiap klik kamera ada kesempatan berbagi suara yang mungkin terabaikan.
2 Komentar
Jakarta memang punya banyak sisi dan warna. Masing-masingnya mempunyai kisah dan cerita. Terima kasih, Mas Bayu, sudah berbagi. Perspektif dan tulisan lainnya, selalu dinanti.
BalasHapusTerima kasih sudah mampir, Mas.
HapusJakarta memang sangat seksi sebagai sebuah kota. Beragam kisah dan cerita mewarnai kota ini. Menarik melihat Jakarta dari banyak sisi.